Penerapan Sanksi Uqubat di Pakistan
Lalu apa yang ada dibalik kesepatakan itu? Apakah kesepakatan itu akan merealisasikan perdamaian di lembah Swat?
Harus ditunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya Harakah Tathbîq asy-Syarjî’ah al-Muhammadiyyah menandatangani kesepakatan penerapan syariah di lembah Swat dengan pemerintah. Sebelumnya telah terjadi kesepakatan yang serupa dengan kesepakatan ini pada tahun 1994, tahun 1999 dan tahun 2007. Namun semua kesepakatan itu tidak bertahan lama. Pemerintah Pakistan memanfaatkan kesepakatan itu setiap kalinya demi tujuan-tujuannya sendiri. Kali ini tidak tampak bahwa di dalam niat pemerintah untuk berkomitment dengan kesepakatan tersebut. Yang lebih kuat adalah bahwa pemerintah Pakistan akan mengeksploitasi kesepakatan tersebut untuk meraih beberapa tujuan, diantaranya:
Pertama, militer Pakistan tidak ingin terjatuh ke dalam peperangan brutal dengan kelompok bersenjata di lembah Swat dan pada waktu yang sama harus terjun dalam memerangi gerakan Taliban, Baitullah Mas’ud, dan Jamaah Tahrîk Thâlibân Bâkistân di kawasan suku-suku. Yaitu bahwa kesepakatan ini akan membuka ruang bagi militer Paskistan untuk kembali merapatkan barisannya untuk digunakan di tempat-tempat lainnya.
Kedua, di balik kesepakatan itu pemerintah Pakistan bertujuan memecah barisan Taliban Swat dan Taliban yang loyal kepada al-Qaeda. Dubes Pakistan di Washington Husein Haqani mengatakan : “kami berupaya memecah barisan al-Qaeda dan kelompok bersenjata Taliban dari satu sisi dan gerakan-gerakan lokal di Swat yang berjuang untuk menerapkan syariah dari sisi yang kedua. Dan ini merupakan bagian dari fakta militer dan strategi politik yang akan mendorong para penduduk lokal untuk melakukan revolusi melawan teroris dan berikutnya untuk mengisolasi dan menghancurkan mereka”.
Ketiga, ini merupakan tujuan terpenting, yaitu bahwa Amerika telah berencana menyerang Afganistan pada kuartal keempat. Amerika telah mengirimkan 17.000 pasukan tambahan untuk tujuan ini. Dengan dukungan pasukan tambahan ini kekuatan Amerika akan meningkat 40 % dari sebelumnya. Kekuatan tambahan itu terdiri dari 8000 pasukan marinir, 4000 pasukan yang didukung kendaraan Stryker yang dipersenjatai dan 5000 pegawai pendukung. Kekuatan itu akan digunakan dalam aksi peperangan –yang biasanya dilakukan pada kuarter musim dingin- untuk memperkuat cengkeraman agresor di daerah-daerah sekitar Kabul dan melindungi jalan-jalan yang mengelilingi ibu kota. Diatas semua itu, untuk mendukung kekuatan NATO di Afganistan Selatan guna menjamin pemilu presiden yang akan berlangsung di sana pada buan Agustus mendatang.
Keempat, untuk mendukung strategi Amerika guna menciptakan stabilitas di Afganistan. Amerika telah mendorong militer Pakistan untuk membuat kesepakaan secara emporal dengan kekuatan bersenjata di Swat. Hal itu supaya militer bisa memfokuskan upayanya di kawasan suku-suku. Tambahan lagi, bahwa strategi itu mengharuskan Pakistan selalu siap dan tidak disibukkan dengan masalah perbatasan India. Oleh karena itu Amerika memerintahkan pemerintah Pakistan yang loyal kepadanya untuk memuaskan India dan berikutnya akan bisa menghilangkan ketegangan dengan India. Maka pemerintah Pakistan memenuhi perintah itu. Rahman Malik penasehat dalam negeri bagi perdana menteri mengumumkan Pakistan bertanggungjawab secara parsial atas peristiwa Bombay. Beberapa hari sebelum pemerintah Pakistan mengumumkan bertanggungjawab secara parsial akan peristiwa Bombay, Singh Modi dari partai JBJ –Janata Bharata- India yang loyal kepada Amerika, menumpahkan kemarahannya terhadap partai Konggres yang menaikkan eskalasi ketegangan dengan Pakistan. Singh Modi memfokuskan kepada faktor dalam negeri atas peristiwa Bombay. Ia mengatakan: “jika kami bertanya warga sesiapapun di sini di India, ia memiliki pengetahuan dan pengalaman minimal terhadap peristwa Bombay maka ia akan mengatakan kepada kita bahwa peristiwa itu tidak akan terjad seandainya tidak mendapat dukungan dari dalam negeri.” KEdua agen Amerika baik di Pakistan maupun di partai Janata Bharata India saling membantu dalam menurunkan tensi ketegangan antara pemrntah Zardari dan pemerintah India pimpinan partai Konggres. Hal itu untuk meniadakan alasan bagi partai Konggres yang bisa dimanfaatkan dalam mengambil aski militer terhadap Pakistan. Semua itu karena Amerika ingin menjauhkan ketegangan dari perbatasan Pakistan dengan India agar militer Pakistan memiliki kelonggaran untuk melakukan aksi-aksi militer bersama Amerika di kawasan suku-suku!.
Kelima, berkaitan dengan pernyataan Amerika yang menentang kesepakatan Swat, maka yang bisa diperhatikan di dalamnya adalah bawha pengumuman keepakatan itu terjadi setelah kepergian Holbrook dari Pakistan. Tidak tergambar bahwa Amerika tidak mengetahui hal itu. Sebagai tambahan, bahwa pernyataan awal-awal yang dikeluarkan oleh para pejabat Amerika adalah memuji kesepakatan Swat. Hal itu bertentangan dengan pernyataan NATO dan Inggris. Wakil juru bicara resmi Departemen luar negeri Amerika Gordon Durguid mengulang-ulang apa yang disebutkan oleh pejabat resmi Pakistan di departemen pertahanan tentang keseakatan. Durguid mengatakan: “sesungguhnya undang-undang islami merupakan bagian dari konstitusi Pakistan. Saya tidak memandang terdapat justifikasi bagi seorangpun di luar Pakistan untuk mendiskusikan masalah ini dan dan tentu saja bukan pula orang yang berada diatas podium ini”. Ketika salah seorang wartawan mensifati kesepakatan itu sebagai kesepakatan antara pemerintah Pakistan dan gerakan Taliban, Durguid membantahnya dengan perkataan: “kami tidak yakin atas diagnosis Anda terhadap apa yang terjadi di Pakistan. Oleh karean itu saya alihkan Anda kepada pemerintah Pakistan untuk menjelaskan hal itu kepada Anda”. Pernyataan ini bertentangan dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh utusan Inggris, as-Sami di Islamabad. Ia mengatakan: “sesungguh kesepakatan perdamaian yang lalu belum bersifat menyeluruh. Dan juga tidak menjadi solusi yang langgeng bagi masalah Swat. Wajib kami tegaskan baha kesepakatan itu akan menghentikan kekerasan dan bukan untuk menciptakan ruang tambahan bagi kekerasan”.
Keenam, adapun tentang pernyataan Holbrook yang keras seputar kesepakatan tersebut, maka sesungguhnya maksud dari pernyataan itu adalah menenangkan kewaspadaan yang keluar dari NATO, India dan negara-negara lain. Sementara pada saat yang sama hal itu untuk mendemonstrasikan keinginan Washington dalam mengirim surat yang kuat untuk militer Pakistan agar tidak melampaui tujuan dari kesepakatan tersebut yaitu untuk menciptakan ketenangan yang bersifat temporal di lembah Swat dan agar militer memiliki kelonggaran untuk memerangi Taliban di Afganistan dan di perbatasan Pakistan-Afganistan. Kemudian setelah itu menghancurkan kekuatan bersenjata di Swat. Dan sungguh Amerika tidak akan mau menerima pengulangan kejadian tahun 2006 dimana pemerintah menandatangai kesepakatan yang serupa dengan kelompok bersenjata di kawasan suku-suku. Maka kekuatan bersenjata mulai mengumpulkan diri mereka sendiri dan melakukan serangan bersenjata di dalam Afganistan. Oleh karena itu militer Pakistan tidak menarik kekuatannya dari lembah Swat meski telah ditandatangani kesepakatan itu.
05.41 | 0 Comments
Maklumat Politik Tentang Sahara Barat
Sesuatu yang mungkin terjadi dari utusan khusus yang baru yang berkebangsaan Amerika tersebut adalah ia hanya akan memenej krisis, dan bukan menyelesaikannya sehingga Amerika bisa tetap mempertahankan krisis Sahara Barat berada di tangannya sesuai dengan strategi Kisinger dalam memenej berbagai krisis tanpa memecah-mecahnya. Itu yang mungkin terjadi. Dewan Keamanan Internasional telah mengumumkan bahwa akan mengambil keputusan baru khusus berkaitan dengan masalah Sahara Barat setelah rangkaian ke lima perundingan yang telah diantisipati antara kedua pihak yang bertikai yaitu antara Maroko dan Polisario dan setelah laporan yang diajukan oleh Ross kepada dewan.
05.36 | 0 Comments
Siapakah Kelompok G 7?
Kelompok G-7 berdiri pada tahun 1976. Kelompok G-7 ini dibentuk oleh menteri-menteri keuangan tujuh negara industri besar dengan tujuan untuk membahas masalah-masalah ekonomi dan politik. Anggota kelompok G-7 adalah: Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, Amerika dan Kanada. Pertemuan G-7 dihadiri oleh ketua umum Uni Eropa mewakili Uni ropa, dan kepala negara yang sedang menjadi ketua Dewan Uni Eropa. Kemudian Rusia bergabung ke dalam kelompok G-7 pada tahun 1997. Setelah itu kelompok tersebut disebut kelompok G-8. Tidak ada kewajiban meleburkan kelompok G-7 dan kelompok G-8.
Pada tanggal 13-14 Pebruari 2009, selama dua hari, para menteri keungan dan gubernur bank sentral tujuh negara industri terkaya mengadakan konferensi di Roma. Konferensi itu diadakan untuk membahas solusi krisis finansial yang melanda ketujuh negara tersebut dan juga seluruh negara di dunia.
Mereka telah mengeluarkan press release yang di dalamnya dinyatakan: “perealisasian stabilitas perekonomian global dan pasar finansial tetap menjadi prioritas utama kami” (AFP, 14-02-09). Hal itu menunjukkan bahwa perekonomian dunia dan pasar keuangan global masih tetap tidak stabil, dan masih berada dalam keguncangan. Juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi masih terus berjalan. Bahkan mereka meminta digunakannya semua alat politik untuk merealisasi stabilitas itu. Mereka mengatakan di dalam statement mereka itu: “kami seluruhnya mengambil langkah-langkah yang tidak biasa untuk menghadapi tantangan-tantangan ini dan untuk menegaskan kembali komitmen kami untuk bekerja bersama melalui pemanfaatan semua alat politik untuk menopang pertumbuhan, investasi dan penguatan sektor finansial” (Kantor Berita RRC dan AFP, 14-02-09). Pernyataan ini menunjukkan atas ketidakmampuan doktrin kapitalisme dalam mensolusi krisis. Sehingga mereka merujuk kepada alat-alat politik yang doktrin kapitalisme itu sendiri tidak memperbolehkan negara melakukan intervensi. Atau yang oleh tokoh besar mereka yaitu Adam Smith dia sebut “cakar penguasa”.
Para peserta konferensi itu telah mengakui ketidakmampuan mereka ketika mereka mengatakan di dalam statement itu: “langkah-langkah perbaikan yang mendesak bagi sistem keuangan global sangat penting. Kerena krisis yang terjadi telah menampakkan kelemahan yang dalam di dalam sistem tersebut” (AFP, 14-02-09). Statement itu juga mengatakan: “sesungguhnya krisis yang awalnya sebagai goncangan finansial saat ini telah mencengkeram perekonomian riil dan menyebar ke seluruh dunia” (Surat Kabar RRC, 15-02-09). Yaitu bahwa krisis telah melewati pasar keuangan sehingga meliputi perekonomian secara keseluruhan. Artinya telah meliputi sumber-sumber perekonomian, alat-alat produksi, lapangan kerja dan pasar-pasar riil. Jadi masalahnya sangat serius dan bukan hanya masalah sepele.
Tampak jelas bahwa hasil yang dikeluarkan oleh kelompok G-7 mendapat perhatian serius dari sejumlah pengamat, khususnya para pengamat Eropa. Contohnya, Simon Jhonson, mantan kepala ekonom IMF. Ia mengatakan: “sesungguhnya pertemuan G-7 merupakan kesempatan yang sangat baik bagi sejumlah pemimpin negara industri untuk menegaskan kepemimpinan mereka bagi perekonomian global. Hanya saja apa yang sampai kepada kita dari hasil pertemuan itu secara resmi hanyalah penekanan dari apa-apa yang sudah dikatakan sebelumnya”. Marco Annunziata, ekonom di Uni Credit MIB di London, mengatakan: “kita mendengar pernyataan-pernyataan bombastis di dalam pertemuan tersebut, hanya saja –seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya- pernyataan itu tidak melebihi sikap-sikap sebelumnya yang menegaskan komitmen terhadap doktrin-doktrin dan komitment-komitmen yang telah kita dengar sebelumnya. Komitmen tindakan secara kolektif merupakan sesuatu yang nonsense dan menggelikan. Komitmen itu sama persis dengan komitmen yang telah mereka bicarakan pada bulan Desember yang lalu”. Menteri Keuangan Perancis, Christine Lagarde mengatakan: “diatas kertas masalahnya tampak baik. Dan tidak diragukan lagi bahwa doktrin-doktrin itu sangat baik. Tetapi yang penting adalah implementasinya”. Gubernur Bank Sentral Kanada, Mark Carnay, mengatakan kepada para wartawan di Roma: “sesungguhnya ini adalah rencana yang menyeluruh. Di sana juga terdapat niat dan keinginan. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah dimana implementasi dan pelaksanaanya”.
Sesungguhnya, pokok masalahnya adalah bahwa orang-orang Eropa tidak percaya dengan liberalisme pasar yang disodorkan oleh Amerika. Amerika menyatakan bahwa Amerika menginginkan liberalisme. Akan tetapi rencana stimulus yang dibenarkan oleh para pembuat undang-undang Amerika justru menguatkan langkah-langkah proteksi. Dan ini bertetangan dengan keputusan-keputusan G-7… Eropa sangat terkejut oleh ulah Amerika yang menutup pasar-pasar Amerika terhadap komoditas-komoditas Eropa. Eropa juga sangat terkejut dengan kerja keras pemerintahan Obama untuk meringankan dampak krisis perekonomian Amerika melalui stimulus sebesar US $ 787 milyar yang tertuang didalam rencana stimulus. Dalam pembicaraan menteri keuangan Jerman, Alistair Darling, di dalam pertemuan G-7, ia mengatakan: “kita wajib berhati-hati terhadap langkah-langkah proteksi, baik disengaja maupun yang tidak disengaja”. Di atas semua itu, orang-orang Eropa juga ikut serta dalam melakukan langkah-langkah proteksi seperti langkah-langkah yang diambil oleh Inggris paling akhir untuk melindungi angkatan kerjanya dari para imigran Eropa. Atau langkah-langkah pemerintah yang diambil oleh Perancis dan Italia untuk menyelamatkan industri produsen otomotif. Dari sisi praktis, sebenarnya ide pasar bebas telah mati!
Akan tetapi, hal yang baru di dalam konferensi G-7 itu adalah masalah China. Untuk pertama kalinya statement G-7 memuji China. Padahal konferensi G-7 sebelumnya mengkritik kebijakan finansial dan ekonomi China. Di dalam statement penutup, mereka memasukkan pujian tersebut. Statement akhir tersebut menyatakan: “kami menyambut langkah-langkah China dan kelangsungan komitmennya secara lebih besar bagi elastisitas nilai kurs yang mendorong terus menguatnya kurs mata uang Yuan secara mencolok (Ash-sharq al-Awsath, 15-02-09). Negara-negara G-7 itu dan khususnya Amerika berusaha secara sungguh-sungguh untuk menciptakan pengaruh terhadap China di dalam upaya untuk menurunkan China dan di dalam upaya menekan China dan menundukkannya kepada syarat-syaratnya. Ekonom senior bank Uni Credit, Marco Annunziata menyampaikan pujian terhadap perubahan sikap kelompok G-7 terhadap China. Ia mengatakan: “kondisi ketegangan antara Amerika Serikat dan China seungguhnya memiliki pengaruh yang berbahaya bagi pasar. Dan terus berlanjutnya pembelian obligasi AS oleh China sangat mendasar bagi stabilitas perekonomian” (Ash-sharq al-Awsath, 16-02-09).
Sesungguhnya Barat bertindak seakan-akan tidak menemukan solusi yang bisa menyelesaikan kambrukan total bagi sistem keuangan global. Semua yang dilakukan adalah menambah gelontoran uang di pasar atau meminta negara-negara –utamanya negara G-20- untuk ikut serta dalam menanggung beban masalah mereka. Misalnya, kelompok G-7 mendorong China untuk memperhatikan tingkat suku bunga mereka. Di dalam seruan mereka dinyatakan: “kami menyambut langkah-langkah China secara finansial dan komitmennya untuk menambah alastisitas tingkat suku bunga. Satu hal yang akan memperkuat dengan memperbaiki kurs Yuan secara efektif.” Maksud dari pernyataan itu adalah untuk mendapatkan kerelaan China setelah sebelumnya menteri keuangan Amerika yang baru menyerang China atas kenaikan nilai Yuan” – selama jangka waktu lalu, Amerika menekan China untuk menurunkan nilai mata uangnya supaya menciptakan realita yang mendukung perekonomian Amerika dengan jalan menguatkan ekspor dan membantu Amerika dalam pembayaran utang luar negerinya–. Geoffrey Yu, ahli strategi dalam pertukaran mata uang yang bermarkas di London mengatakan: “bahwa G-7 menyadari bahwa wajib menggabungkan China di dalam sistm keuangan global dari pada mencampakkan China dikarenakan tidak adanya elastisitas Yuan.” Pernyataan tersebut untuk meminta kerelaan China setelah sebelumnya terjadi pertentangan antara China dan Amerika Serikat.
Konferensi G-7 itu merupakan pendahuluan bagi konferensi G-20 pada tanggal 2 April mendatang yang akan di adakan di London. Nanti akan tampak pengaruhnya terhadap China. China adalah negara yang paling kecil terpengaruh oleh krisis. China satu-satunya negara yang belum memasuki resesi ataupun kontraksi. Bahkan pertumbuhan ekonominya terus berlanjut meski angkanya lebih kecil dari sebelumnya. China saat ini menjadi sasaran tujuh pemimpin kapitalisme. Tampak bahwa ungkapan mereka di dalam statement akhir: “pemanfaatan semua alat politik untuk mendukung pertumbuhan, lapangan kerja dan penguatan sektor keuangan”, maksud pernyataan ini bukan hanya bersifat dalam negeri, tetapi juga mencakup luar negeri. Yaitu memaksa negara-negara lain khususnya China untuk menerima tuntutan mereka, itu artinya adalah pemerasan negara-negara lain itu. Contohnya, menaikkan nilai tukar mata uangnya, Yuan, dan melanjutkan pembelian obligasi Amerika dimana China telah membeli obligasi Amerika hingga saat munculnya krisis telah mencapai lebih dari satu triliyun dolar. Hal itu diluar pembelian saham-saham perusahaan agunan property Fannie Mae dan Freddie Mac yang dilakukan oleh China sekitar setengah triliyun dolar. Juga pembelian saham sebesar puluhan miliar dolar atas saham raksasa Morgan Stanley dan menyelamatkannya dari keambrukan, juga saham-saham perusahaan Bank of America dan perusahaan-perusahaan lainnya. Dan mereka terus menuntut China untuk mengimplementasikan point-point Organisasi Perdagangan Global -WTO- dimana China sudah bergabung di dalamnya sejak 2001. Diantaranya point, pembebasan pasar dan pembukaan pasar bagi pesaing-pesaing mereka.
Disamping semua itu, Amerika terus bekerja untuk menampakkan bahwa Amerika adalah pemimpin dunia dan bahwa Amerika masih mengendalikan semua urusan di dunia. Menteri keuangan AS yang baru Timothy Geitchner mengatakan: “sesungguhnya dunia menghadapi krisis eknomi dan finansial yang paling buruk sejak dekade-dekade lalu. Dan bahwa pemerintah-pemerintah di dunia harus bergerak secara lebih cepat, akan tetapi dengan tetap komit terhadap doktrin-doktrin liberalisme pasar” (Reuters, 14-02-09)
Ringkasnya, Amerika di dalam konferensi G-7 itu berusaha untuk mengokohkan dirinya bahwa Amerika tetap sebagai pemimpin dunia. Itulah yang didektekan Amerika setelah kepercayaan terhadap kepemimpinan Amerika melemah akibat krisis finansial mutakhir. Sesuatu yang mungkin adalah bahwa Amerika akan bekerja di dalam konferensi G-20 yang akan datang untuk mengokohkan kembali kepemimpinan Amerika, dan bisa jadi dalam gambaran yang lebih kuat. Amerika akan mendektekan keinginannya kepada negara-negara lainnya. Khususnya bahwa negara-negara besar di Uni Eropa tidak bisa menggantikan posisi Amerika. Negara-negara besar Uni Eropa itu tidak bisa memanfaatkan peluang yang amat jarang yang lahir dari munculnya krisis ekonomi. Mereka tidak bisa memanfaatkannya hingga untuk menjadikan mereka partner sekaligus pesaing bagi kepemimpinan Amerika. Secara lebih khusus ketika Amerika harus menanggung beban terjadinya krisis finansial mutakhir, sehingga menyebabkan kepercayaan kepada Amerika dan kepada doktrin kapitalisme secara lebih umum melemah. Terlebih bahwa politik arogan dan sombong pada masa Bush telah berlalu dan terbukti gagal dan mendatangkan bencana bagi Barat secara keseluruhan.
05.30 | 0 Comments
UMAT ISLAM KINI MENEMPATKAN SERUAN KHILAFAH DALAM PETA POLITIK INTERNASIONAL
Dengan menunjuk para pelaku peledakan Bom London, Juli 2005, mantan PM Inggeris, Tony Blair, menyatakan seraya mendefinisikan pemikiran mereka sebagai Pemikiran Barbar. Dia tidak hanya berhenti sampai di situ. Blair, bahkan kemudian menambahkan, “Perundang-undangan syariah di dunia Arab akan mengantarkan terbentuknya satu kekhilafahan untuk seluruh umat Muslim.” Menteri Dalam Negerinya yang kala itu adalah Charles Clark pun ikut memberikan pernyataan, dalam dialognya dengan para pemikir Amerika sayap kanan, Heritage Foundation, “Kita tidak akan pernah mentolelir apapun perbincangan tentang pendirian Khilafah. Kita juga tidak akan mentolelir apapun perbincangan tentang wajibnya perundang-undangan (hukum) syariah.” George W. Bush telah mengomentari topik tersebut seraya menyatakan, “Mereka mengharapkan berdirinya entitas politik yang sadis di Timur Tengah, yang mereka sebut Khilafah. Mereka ingin memerintah semua orang dengan ideologi kebencian ini.” Pada Juli 2007, Menteri Pertahanan Inggeris yang baru, Lord Wist, saat menceritakan para pelaku yang berusaha meledakkan mobil di London, telah menyatakan, “Mereka adalah kaum Rasis dan Puritan. Mereka sedang mencari kekuatan. Mereka adalah orang-orang yang gila harta, dan selalu berbicara tentang Khilafah.”
Seruan Khilafah benar-benar telah digambarkan dengan gambaran ekstrim dan digambarkan, bahwa Khilafah adalah tujuan para Teroris. Perbincangan tentang Khilafah pun telah terjadi, dan itu pun selalu dikaitkan dengna kekerasan. Padahal, tuntutan dan perjuangan untuk menegakkan Khilafah, sejak Khilafah itu dihancurkan tahun 1924 H, dengan nyata telah berlangsung tanpa kekerasan, dan perjuangan tersebut murni merupakan perjuangan politik.
Namun, dengan pertolongan Allah SWT. semua upaya dan keikhlasan umat Islam dalam sebulan benar-benar telah membuktikan, bahwa Khilafah tidak terkait dengan kekerasan. Kaum Muslim pun menganggapnya sebagai agenda utama (vital) dan hukumnya wajib. Khilafah juga merupakan satu-satunya alternatif bagi kerusakan, kezaliman, pendudukan, perpecahan, kekacauan dan instabilitas yang kini sedang mendera dunia Islam.
Sepanjang bulan Rajab, dan sepanjang Peringatan Runtuhnya Khilafah, Hizbut Tahrir telah melakukan serangkaian konferensi di seluruh dunia, yang didukung ratusan ribu kaum Muslim yang dengan jelas sedang menyerukan tegaknya Khilafah. Hizbut Tahrir menjelaskan metode intelektual dan politik untuk menegakkan Khilafah. Kaum Muslim pun telah membuktikan, bahwa Khilafahlah satu-satunya sistem pemerintahan yang sahih dan adil, yang harus memimpin dan menggantikan sistem Demokrasi yang penuh kebohongan, sistem kepemilikan yang rusak dan kezaliman yang terjadi saat ini.
Di London, lebih dari 2500 orang telah menghadiri Konferensi Khilafah yang diadakan di Alexandria Palace, London, yang digambarkan oleh koran New York Times sebagai “Serangan Pertama terhadap Para Pengkritiknya”. Di kota Ramalah, Palestina, lebih dari 12000 kaum Muslim telah menghadiri longmarch yang menyerukan penegakan Khilafah. Di Sudan, ratusan ulama’ kaum Muslim telah mengikuti dialog tentang Khilafah. Di masing-masing, Malaysia, Belanda, Yaman, Ukraina dan Libanon ribuan orang telah berkumpul untuk mendialogkan dan mendiskusikan Khilafah, bahwa Khilafah merupakan jalan masa depan dunia Islam. Sementara Konferensi Khilafah Internasional di Indonesia yang telah dihadiri oleh lebih dari seratus ribu kaum Muslim di salah satu stadion sepakbola terbesar di dunia telah menjelaskan kepada siapa saja yang masih mempunyai mata tentang orientasi kaum Muslim yang begitu kuat menuju Khilafah. Ketika rayah berkibar, massa pun menggemakan takbir, dan berbagai orasi kemudian disiarkan melalui al-Jazerah, BBC, Reuters dan lain-lain, kepada jutaan kaum Muslim di seluruh dunia yang telah bergembira dan terus berdoa kepada Allah SWT. agar segera menolong seruan ini.
Wahai kaum Muslim yang Mulia:
Sesungguhnya Khilafah bukanlah monopoli salah satu kumpulan atau kelompok Islam. Khilafah adalah sistem politik Islam yang sama-sama kita harapkan. Sistem tersebut merupakan bentuk kefarduan yang agung, yang telah Allah SWT. tetapkan. Konferensi-konferensi ini, selain menjelaskan adanya kekuatan yang tengah membimbing kaum Muslim menuju tegaknya Khilafah, juga telah meruntuhkan berbagai serangan yang dipenuhi kedengkian, berbagai kritik yang keliru, serta berbagai kebohongan yang telah dihembuskan oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim selama bertahun-tahun. Maka, menjadi kewajiban kita untuk memahami keagungan sistem dan struktur Khilafah, serta mempertahankan massa yang mendukung Khilafah, yang dengan pertolongan dan kekuasaan Allah telah berhasil dibangun.
Hudzaifah al-Yaman berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Akan ada di tengah-tengah kalian zaman kenabian. Maka, dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia memang berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada zaman Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, maka dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia memang berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada zaman penguasa yang zalim, maka dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia memang berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada zaman penguasa diktator, maka dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia memang berkehendak untuk mencabutnya. Setelah itu, akan ada zaman Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Belia pun kemudian terdiam.” (HR. Ahmad)
Di sini, di United Kingdom (Inggeris), kita harus menyatukan suara kita dengan umat Islam yang dengan penuh kekuatan sedang mengarah pada perjuangan penegakan Khilafah di dunia Islam. Tentu, kita tidak akan pernah mendukung penggunaan kekerasan. Seruan kita adalah seruan politik yang berpijak kepada tuntunan Rasulullah saw. ketika melakukan serangan intelektual dan politik demi membangun negara Islam pertama di Madinah. Kini, Islam, syariah dan Khilafah telah menjadi sasaran tembak kebohongan dan penyesatan pemerintah Barat, dalam rangka menghalangi kaum Muslim memerdekakan diri mereka dari para penguasa zalim dan diktator di negeri kita. Para pemerintah Barat tidak peduli terhadap keamanan. Sebaliknya, mereka hanya peduli terhadap keuntungan dan kepentingan strategis mereka sendiri.
Aktivitas kita di sini adalah untuk membangun pandangan yang benar tentang Islam, dengan mengemban berbagai pemikiran politiknya, terutama Khilafah, di tengah-tengah komunitas kita, agar mereka mengemban pemikiran ini dan menjelaskannya kepada masyarakat non-Islam di Barat, tempat di mana komunitas kita hidup di sana. Begitu juga menantang segala bentuk kebohongan tentang Islam, kemudian menampilkan keindahan Islam dalam kata dan perbuatan. Membangun dakwah yang kuat di Barat dan opini global yang positif tentang Islam dan Khilafah merupakan perkara penting demi mengembalikan bangunan Khilafah di dunia Islam.
Kami juga menyerukan kepada Anda untuk bergabung dengan Hizbut Tahrir dalam gerakan internasionalnya untuk Islam, yang non-kekerasan dan basa-basi. Mari kita bergabung dengan saudara-saudara kita di seluruh dunia dan bahu-membahu dengan mereka dalam pertarungan mereka demi mewujudkan tuntutan Khilafah yang terus meningkat hari demi hari.
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ" (الصف- 14)
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian para penolong agama Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Isa bin Maryam kepada kaum Hawariyyin, “Siapakah yang sanggup menjadi para penolongku untuk berdakwah di jalan Allah?” Maka, kaum Hawariyyin itu pun menjawab, “Kamilah para penolong agama Allah.” (Q.s. as-Shaf: 14)
Kami memohon kepada Allah SWT. agar senantiasa menolong kita, dan memudahkan jalan kita dalam perjuangan ini. Amin.
8 Sya’ban 1428 H Hizbut Tahrir Inggeris
21 Agustus 2007
08.04 | 0 Comments
KHILAFAH PASTI KEMBALI DENGAN IZIN DAN PERTOLONGAN ALLAH
Tepat 28 Rajab 1429 H ini, kita telah memperingati 86 tahun momentum yang paling menyakitkan bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu runtuhnya Khilafah. Tanggal 28 Rajab 1342 H, bertepatan dengan 3 Maret 1924, Kemal Attaturk (seorang agen Inggris), secara resmi membubarkan Kekhilafahan Turki Utsmani. Malam harinya, tengah malam, Khalifah Islam terakhir, Sultan Abdul Majid, diusir!
Empat bulan kemudian, 24 Juli 1924, Perjanjian Laussane ditandatangani. Di antara isinya, Inggris mengakui kemerdekaan Turki sekaligus menarik pasukannya dari Turki. Merespon sikap Inggris ini, seorang perwira Inggris saat itu memprotes Menteri Luar Negeri Inggris, Curzon. Dengan enteng Curzon menjawab, “Yang penting, Turki telah kita hancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritualnya, yaitu Khilafah dan Islam!” (Zallum, 2001: 184).
Curzon benar. Setelah sekitar 84 tahun menjadi republik, menerapkan hukum-hukum Barat sekular, dan membuang hukum-hukum Islam, Turki memang tidak pernah bangkit; kemakmuran tidak pernah terwujud; dan cita-cita untuk menjadi negara modern seperti Eropa tidak pernah terbukti. Turki bahkan nyaris bangkrut. Pada tahun 1994, 1 US$ dihargai 10.000 Turkish Lira (uang Turki). Pada tahun 2004, 1 US$ setara 1.500.000 Turkish Lira. Turki telah lama mengalami mega inflasi (di atas 100% pertahun). Di Turki ongkos naik bis kota pernah mencapai sejuta! (Fahmi Amhar, 2004).
Bandingkan kondisi Turki saat masih dalam wadah Khilafah dan menerapkan syariah. Tentang Kekhilafahan Turki Utsmani, Paul Kennedy, seorang pemikir Barat, menulis, "Imperium Utsmani lebih dari sekadar mesin militer; ia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu membentuk satu kesatuan iman, budaya dan bahasa pada sebuah area yang lebih luas dibandingkan dengan yang pernah dimiliki oleh Imperium Romawi...” (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000).
Kehebatan dan keagungan Khilafah Islam bukan hanya pada masa Turki Utsmani, tetapi juga pada masa-masa Kekhilafahan sebelumnya, baik Abbasiyah, Umayah dan tentu saja masa Khulafaur Rasyidin. Tentang ini, Paul Kennedy, kembali menulis, ”Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, Dunia Islam telah jauh melampaui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, rakyatnya terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya memiliki universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid-masjid yang indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum Muslim selalu berada di depan." (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000),
Kepastian Kembalinya Khilafah
Meski sedemikian fakta sejarah membuktikan, dan pengakuan pun datang bukan hanya dari pakar Islam, tetapi juga pakar non-Muslim, tetap saja ada pihak yang meragukan kembalinya Khilafah. Bahkan ada yang menganggap kembalinya Khilafah itu mustahil, dan orang yang hendak menegakkannya kembali itu bagaikan tengah berfantasi.
Berkaitan dengan soal di atas, perlu kami tegaskan di sini, bahwa orang yang mengatakan bahwa Khilafah tidak akan bisa tegak itulah yang justru tengah berfantasi. Dengan izin Allah, Khilafah akan tegak kembali. Keyakinan ini ditopang oleh empat perkara:
Pertama, jaminan dari Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih untuk memberikan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana yang pernah diberikan kepada para pendahulu mereka.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).
Kedua, kabar gembira dari Rasulullah saw. berupa akan kembalinya Khilafah Rasyidah ala Minhaji Nubuwwah (berdasarkan metode kenabian), setelah fase penguasa diktator pada zaman kita ini., Nabi saw. Bersabda, sebagaimana dituturkan Hudzaifah al-Yaman:
« تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ ».
“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala Minhajin Nubuwah (berdasarkan metode kenabian).” Kemudian Baginda saw. diam. (HR Ahmad).
Ketiga, umat Islam yang hidup dan dinamis tentu akan menyambut perjuangan bagi tegaknya Khilafah dan siap mendukung perjuangan ini hingga Allah mewujudkan janji-Nya. Setelah itu, mereka akan bahu-membahu merapatkan barisan untuk menjaga Khilafah. Sesungguhnya umat ini diturunkan sebagai umat terbaik (khayra ummah), yang akan selalu bergerak untuk mewudukan predikat itu. Allah SWT berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ
Kalian adalah umat terbaik, yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia. Kalian harus menyerukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran serta tetap mengimani Allah. (QS Ali 'Imran [3]: 110).
Keempat, adanya partai (hizb) yang ikhlas, yang terus bekerja dengan sungguh-sungguh siang dan malam bagi tegaknya Khilafah semata karena hingga janji Allah dan kabar gembira dari ullah saw. itu benar-benar terwujud. Partai itu, sikapnya lurus, tidak pernah takut terhadap cacian orang yang mencaci, tuntutannya tidak pernah melunak serta tekadnya tidak pernah melemah sampai cita-citanya tercapai. Seolah-olah ini membenarkan sabda Nabi saw., sebagaiman dikeluarkan Muslim dan Tsauban:
« لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ...»
Akan selalu ada satu kelompok dari umatku, yang selalu memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak akan bisa dinistakan oleh siapa pun yang menistakan mereka, hingga urusan Allah ini menang, dan mereka pun tetap seperti itu.
Sesungguhnya berdasarkan satu faktor di atas saja cukup untuk menyatakan bahwa perjuangan demi tegaknya Khilafah bukanlah fantasi. Lalu bagaimana jika keempat fakta tersebut menyatu?
Tegaknya Khilafah adalah Cita-cita dan Perjuangan Umat Islam
Dalil-dalil yang membuktikan kewajiban untuk menegakkan kembali Khilafah sangat banyak, baik al-Quran, as-Sunnah maupun Ijmak Sahabat. Itu sudah sering dan berulang kami kemukakan dalam berbagai kesempatan. Karena itu, kami tidak perlu mengemukakannya kembali. Apalagi masalah ini merupakan perkara ma’lûm min ad-dîn bi ad-dharûrah (urusan agama yang sudah diyakini urgensitasnya).
Karena itulah, lihatlah sejarah dengan jujur, sejak Baginda Rasulullah saw. wafat, umat Islam berturut-turut mengangkat para khalifah; mulai dari Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib); Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah hingga Khilafah Utsmaniyah. Selama berabad-abad umat Islam tidak pernah putus di tengah jalan untuk terus mempertahankan Khilafah. Mereka tidak pernah menunda pengangkatan khalifah baru jika khalifah sebelumnya wafat. Konsistensi sikap umat Islam ini tidak lepas dari kesadaran mereka akan wajib dan urgennya Khilafah bagi umat Islam. Ini sekaligus membuktikan kebenaran sabda Rasulullah saw.:
«وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ »
Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku; yang akan ada adalah para khalifah dan mereka berjumlah banyak. (HR al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah dan Ahmad).
Alhamdulillah, kini umat Islam pun paham, bahwa Khilafah telah menjadi satu-satunya tuntutan mereka. Umat pun telah merindukannya. Ditambah lagi dengan fakta dan peristiwa yang terjadi akibat ulah negara-negara kafir penjajah—baik di Irak, Afganistan maupun Palestina—seperti kezaliman, pembunuhan, perampokan kekayaan alam dan upaya memperbudak rakyatnya untuk memuaskan nafsu penjajahan mereka. Semuanya itu terekam dengan baik dalam benak umat, dan mereka sadar, bahwa umat ini membutuhkan kekuatan. Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan Khilafah. Dengannya umat Islam di seluruh dunia ini akan bersatu padu sebagai satu umat.
Mereka juga sadar, bahwa umat Islam ini adalah satu; akidah mereka satu; agama mereka satu; al-Quran mereka satu; kiblat mereka satu; syariah mereka satu; dan kepemimpinan mereka pun—sebagaimana yang dituntut Allah dan Rasul-Nya—harusnya satu. Itulah Khilafah Islam. Kesadaran itu kini bagaikan bola salju yang terus menggelinding. Karena itu, kembalinya Khilafah tinggal soal waktu. Semuanya ada di tangan Allah. Karena itu, hanya dengan izin dan pertolongan Allah, Khilafah pasti akan tegak kembali! Wallahu a’lam. []
07.36 | 0 Comments